BITUNG, 12 Februari 2026 – Aktivis pemuda Sulawesi Utara sekaligus Mantan Duta Pemuda Sulut Tahun 2015, Nando Lengkong, melontarkan peringatan keras kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sulut yang baru, Audy Pangemanan, agar tidak mengulangi pola lama yang dinilai timpang dan terlalu berorientasi pada sektor olahraga semata.
Meski menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan Kadispora yang baru, Nando menegaskan bahwa dunia kepemudaan tidak boleh kembali diposisikan sebagai “anak tiri” dalam struktur kebijakan maupun penganggaran Dispora.
“Kami mengapresiasi semangat Pak Kadis di bidang olahraga. Namun jangan sampai Dispora berubah menjadi Dinas Olahraga saja. Kepemudaan jangan dijadikan pelengkap penderita,” tegas Nando.
Menurut Nando, yang pernah terlibat langsung dalam program pembinaan pemuda di tingkat provinsi, sejak awal kepemimpinan baru aktivitas yang terlihat di ruang publik masih didominasi agenda olahraga. Sementara program strategis kepemudaan yang menyentuh pembinaan karakter, kepemimpinan, kewirausahaan pemuda, serta penguatan organisasi kepemudaan belum tampak menjadi prioritas utama.
Ia menilai, ketimpangan antara olahraga dan kepemudaan bukan sekadar asumsi, melainkan persoalan lama yang dapat ditelusuri melalui perbandingan alokasi anggaran dan capaian program selama bertahun-tahun.
“Sebagai mantan Duta Pemuda, saya melihat langsung bagaimana ruang-ruang pembinaan pemuda semakin menyempit. Jika ini terus dibiarkan, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi Sulawesi Utara,” ujarnya.
Nando juga menyoroti dampak sosial dari lemahnya perhatian terhadap kepemudaan, mulai dari meningkatnya angka kriminalitas usia muda, menurunnya minat anak muda terhadap organisasi kepemudaan, hingga maraknya pergaulan bebas yang berujung pada gangguan ketertiban masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa perhatian terhadap kepemudaan bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan kewajiban negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, yang mewajibkan pemerintah daerah melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan pengembangan potensi pemuda secara terencana dan berkelanjutan.
“Kalau kepemudaan terus ditempatkan sebagai pelengkap, maka itu bertentangan dengan semangat undang-undang. Jangan sampai Dispora sibuk dengan kegiatan seremonial, tapi abai pada pembinaan jangka panjang,” tegasnya.
Nando menegaskan, dirinya bersama jaringan aktivis pemuda Sulut siap membuka data, berdiskusi secara terbuka, serta mengawal kebijakan Dispora agar lebih adil dan proporsional.
“Kami siap berdialog, tapi juga siap bersuara lebih keras bila kepemudaan terus diabaikan. Ini bukan kritik personal, ini tanggung jawab moral untuk menyelamatkan generasi muda Sulawesi Utara,” pungkasnya.

Social Header